Hasil Riset: Pengguna Mobil Listrik RI Masih Didominasi Kelas Menengah Atas
Mayoritas pemilik mobil listrik di Indonesia berasal dari kalangan menengah atas yang sebelumnya telah memiliki kendaraan konvensional. Temuan ini terungkap dalam riset bertajuk “Menuju Era Mobil Listrik: Sejauh Mana Indonesia Siap” yang diluncurkan firma komunikasi ID COMM di Jakarta, Kamis (11/12).
“Pemilik mobil listrik dalam riset ini sudah memiliki mobil konvensional terlebih dulu. Artinya, mobil listrik bukan mobil pertama yang dibeli. Hal ini menunjukkan segmen pengguna masih didominasi kelompok menengah atas,” kata Asti Putri, Direktur ID COMM, dalam paparan hasil penelitian, melansir dari AntaraNews.
Riset yang menggabungkan wawancara dengan konsumen, pelaku industri, media, dan analisis kebijakan ini mengungkap bahwa transisi ke mobil listrik saat ini lebih mencerminkan pergeseran perilaku konsumen lama, bukan perluasan pasar baru.
Studi tersebut menunjukkan bahwa motivasi ekonomi menjadi faktor utama konsumen beralih ke kendaraan listrik. Biaya operasional yang lebih rendah dan insentif pajak dari pemerintah menjadi pertimbangan penting. Selain itu, beberapa responden mengaku bangga menjadi pengguna awal teknologi yang dianggap modern dan inovatif.
Menariknya, aspek lingkungan justru bukan alasan utama dalam keputusan pembelian. Harga mobil listrik yang dibeli responden berkisar antara Rp189 juta hingga Rp1,58 miliar, dengan mayoritas pengguna berusia 25–50 tahun dan memiliki mobilitas tinggi.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan peningkatan unit kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024. Hingga Agustus 2025, angka tersebut telah mencapai 51.191 unit.
Fenomena “Kanibalisme Pasar”
Claudius Surya, Research Associate ID COMM, menyoroti fenomena “kanibalisme pasar” dalam transisi ini. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah perpindahan konsumen dari mobil bensin ke listrik akibat perang harga, bukan penambahan pembeli baru.
“Yang terjadi adalah peralihan dari mobil ICE ke mobil listrik, bukan penambahan pembeli baru. Konsumennya itu-itu saja, hanya bergeser karena harga makin agresif,” jelas Claudius.
Ia memperingatkan bahwa perang harga yang ketat berisiko memangkas margin produsen secara ekstrem. Selain itu, siklus pembaruan model yang semakin cepat—menjadi hanya dua tahun untuk kendaraan listrik—menambah kompleksitas tantangan industri.
Untuk mencapai fase adopsi massal (early majority), riset ini menyoroti perlunya konsistensi kebijakan, arah bisnis industri yang jelas, serta edukasi publik yang komprehensif tentang nilai praktis dan reliabilitas layanan, termasuk infrastruktur pengisian daya dan purnajual.
“Selama pasar tetap atraktif dan regulasi mendukung, EV akan terus tumbuh. Tapi adopsinya perlu diarahkan agar tidak berhenti di segmen tertentu saja,” tegas Claudius.
Riset ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah dan pelaku industri untuk merancang strategi yang tidak hanya mendorong transisi, tetapi juga memperluas basis konsumen kendaraan listrik ke seluruh lapisan masyarakat.








